<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

aku lagi coba bikin blog nih. tapi agak sulit, butuh waktu cukup banyak untuk bisa mendesain dengan bagus

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, October 26, 2005
Yesus, Muhammad & Soeharto

Yesus, Muhammad & Soeharto

Di Akherat, Tuhan mengutus dua orang nabi, yaitu
Muhamad dan Yesus untuk menemui para mantan diktator
yang mendekam di neraka agar mereka mengakui
dosa-dosanya.

Kunjungan pertama adalah menemui Hitler. Setelah dua
jam memberi nasihat, Hitler menangis tersedu-sedu dan
mengakui dosa-dosanya.

Kata kedua nabi kepada Tuhan. "Bagaimanapun juga
Hitler pernah menjadi seorang protestan".

Kunjungan kedua adalah menemui Mussolini. Setelah tiga
jam memberi nasihat, Mussolini menangis tersedu-sedu
dan mengakui dosa-dosanya.

kata kedua Nabi kepada Tuhan . "Bagaimanpun juga
Mussolini pernah menjadi Katolik yang baik".

Kunjungan ketiga adalah menemui Stalin yang komunis.
Setelah 5 jam memberi nasihat, Stalin menangis
tersedu-sedu dan mengakui dosa-dosanya.

Kata kedua malaikat. "Bagaimanapun juga Stalin pernah
menjadi pengikut gereja Ortodok."

Kunjungan terakhir adalah menemui Soeharto, mantan
diktator di Indonesia. 5 jam, 8 jam. 10 jam berlalu.
Tiba-tiba kedua nabi itu keluar dengan
tersedu-sedu.

Tuhan terkejut dan bertanya " Apa yang terjadi,
Soeharto melakukan apa pada kalian".

Lalu kedua nabi menjawab. "Soeharto tidak berbuat
apa-apa, setelah 10 jam memberi nasihat, Soeharto cuma
berkomentar singkat. KALIAN BERDUA INI SIAPA? "

ha..ha..ha....


Posted at 05:31 pm by danangwd
Comment (1)  

Hukuman untuk Diktator

Hukuman untuk Diktator

Di akhirat, sebagai hukuman atas kekejamnya ketika
menjadi penguasa para mantan diktator diberi hukuman
oleh Tuhan dimana mereka diberi cacad fisik.

Suatu hari Komite Independen Pemantau Akherat (KIPA)
yang dipimpin oleh Tolung Mulyo Lukis (TML) diberi
tugas oleh Tuhan untuk mengecek kondisi para diktator
tersebut.

Hari pertama KIPA mengunjungi Hitler, mantan diktator
Nazi Jerman. Mereka melihat Hitler berjalan dengan
memegang tongkat sambil meraba-raba. 'Sebagai hukuman
Tuhan telah membutakan kedua matanya".

Hari kedua mengunjungi Stalin, mantan diktator Rusia.
Mereka melihat Stalin berjalan dengan dua tongkat.
"Sebagai hukuman Tuhan telah memotong kedua kakinya."

Hari ketiga mengunjungi Pinochet, mantan diktator
kejam dari Chili. Mereka melihat Pinochet sedang
disuapi. 'Sebagai hukuman Tuhan telah memotong kedua
tanganya".

Hari keempat mengunjungi Mussolini, mantan diktator
fasis dari Italia. Mereka melihat dia hanya ber ah uh
ah uh dengan lawan bicaranya. " Sebagai hukuman Tuhan
telah memotong lidahnya".


hari kelima KIPA mengunjungi Soeharto, mantan diktator
dari Indonesai yang juga terkenal kejam waktu
berkuasa. Mereka melihat Soeharto sedang
tersenyum-senyum. Matanya bisa melihat, lidahnya
normal, kaki dan tanganya lengkap.

TML langsung menghadap Tuhan. 'Mengapa semua diktator
diberi cacad fisik sebagai hukuman, tapi Soeharto
tidak ?"

Tuhan menjawab "Soeharto tidak perlu dibuat cacad,
sebab dia sudah cacad sejak berkuasa. Dia sudah tidak
punya otak sejak masih hidup dulu.".


he..he.he...

Posted at 05:27 pm by danangwd
Comments (5)  

Monday, October 24, 2005
Evaluasi 1 th SBY-JK

Awaiting the results of SBY antigraft campaign

The Jakarta Post, Opinion and Editorial - October 20, 2005

President Susilo Bambang Yudhoyono completed the first year of his five-year term on Thursday. This gives us the opportunity to look back at what he has done since voters gave him an overwhelming victory in the direct presidential election in September, 2004.

Combating corruption was one of his major campaign themes. It is true that corruption was his main concern over the last year, as reflected in his official and off-the-cuff speeches. The President made 35 speeches about corruption, averaging three a month.

Concern about corruption is necessary for any Indonesian leader. International communities see the rampant corruption in Indonesia. The Berlin-based Transparency International (TI) always ranks Indonesia toward the bottom of the Corruption Perception Index survey. There has been no significant change in Indonesia's ranking in that survey since the end of Soeharto's regime in 1998. In the latest survey conducted in 2004, TI ranked Indonesia 141 out of 146 countries, or the fifth most corrupt country in the survey.

Another survey conducted by the World Bank, Doing Business in Indonesia 2005, confirmed that Indonesia is not attractive for foreign investors. To invest in Indonesia requires more time, more complex procedures and much more money, all because of corruption.

So, what happened after Susilo became the country's sixth president? He did not implement many concrete anticorruption programs, especially because the President inherited the same corrupt system that had been built up over decades.

However, some progress was made, which we should acknowledge and appreciate.

First, in law enforcement there are no longer any obstacles for prosecutors who want the President's permission to prosecute state officials. The Criminal Code states that before state officials, i.e. local and national legislators, mayors, governors and other high-level officials, can be investigated in criminal cases the president must first issue permission. In previous governments, the president rarely gave permission to investigate and prosecute state officials involved in corruption.

Second, during Susilo's term the Corruption Eradication Commission (KPK) has been a success story. The KPK itself was established before Susilo came to power, but the commission only got the support it needed under Susilo.

Just recently, the KPK conducted a sting to arrest suspects in a corruption scandal in which Supreme Court Chief Justice Bagir Manan has been mentioned as someone who allegedly may have received bribes. And the KPK was instrumental in the prosecution and jailing of Aceh governor Abdullah Puteh, as well as members of the General Elections Commission (KPU).

Third, during Susilo's presidency several big corruption cases were brought to court by the Corruption Eradication Coordination Team. Furthermore, the haj fund corruption case involving former religious affairs minister Said Agil Husin Almunawar, as well as a corruption case involving Bank Mandiri, are now making their way through the courts. Although the trials are ongoing, many people never imagined such big cases would ever make it to the courts at all.

Although Susilo has demonstrated a determination to eradicate corruption, there are still a number of major problems he must confront.

First, the government does not have an integral strategy to eradicate corruption, not just in terms of prosecution but also prevention and education. Following the example of other countries in combating corruption, Indonesia needs a comprehensive strategy to eradicate corruption that is part of general government reform.

The government has drafted the National Action Plan to Eradicate to Corruption, led by the State Development Planning Agency, but there has never been any mention of the progress achieved by this action plan.

Eradicating corruption will never work without first reforming the bureaucracy. A general and integrated strategy to combat corruption must be implemented simultaneously, and it is very important that the President himself monitor this implementation.

Second, corruption and law enforcement are sensitive issues in politics. The President's attempt to enforce the law could be seen as an attempt on his part to attack the opposition. That is why, in the name of fairness, justice and equality before the law, the enforcement of the law must be impartial.

So, other large corruption cases involving the inner circle at the State Secretariat and the controversial bonuses paid to the director and commissioner at state electricity company PLN should also be prioritized by the President and the Attorney General's Office.

Third, the successes achieved by law enforcement are a small milestone in resolving some of the internal problems within law enforcement agencies. The establishment of coordination teams consisting of a prosecutor, police officers and auditors is the short-cut solution to the problem of coordination within law enforcement.

Fourth, the President must focus on short and medium-term goals in eradicating corruption. The President has limited resources and an old system to cope with systemic corruption. To get better results, the President needs to use his resources more efficiently.

The President must decide whether corruption eradication is part of economic recovery, the improvement of public services, the efficiency of the state budget or just about improving Indonesia's rank in the Corruption Perception Index survey by TI. Each option has its consequences and requirements.

After one year, it is the time for the President to choose an option and start prioritizing his targets.


Posted at 10:22 pm by danangwd
Make a comment  

Thursday, September 22, 2005
Perjalanan ke UK

Spring at Nott’s - L’borough - London


Hujan lebat mengguyur Jakarta sore itu. Di beberapa tempat, selokan meluap. Termasuk di daerah Mampang. Taxi Blue Bird yang kutumpangi mesti melaju perlahan karena air cukup tinggi. Tampak satu dua motor mogok. Mungkin mesinnya kemasukan air.

Jam menunjukkan pukul 18.30 ketika taxi memasuki Bandara Soekarno Hatta. Rupanya malam itu Lufthansa, maskapai penerbangan asal Jerman tengah berpesta. Aku yang menjadi salah satu penumpang Lufthansa mendapat sebuah topi warna coklat muda. Di bagian depan topi ada gambar angsa kuning terbang dengan latar belakang warna biru, logo dari Lufthansa. Di bagian belakang tertulis There’s no better to fly.

Di ruang tunggu, makan malam juga disediakan untuk para penumpang Lufhansa. Kulihat tumpeng yang telah terpotong serta nasi kuning beserta lauk pauk dan asesoris yang menyertainya. Rupanya Lufthansa tengah merayakan penerbangan pertama dari Jakarta ke Bangkok. Kali pertama pesawat Jakarta – Frankfurt transit di Bangkok.

Sebuah pesta yang pahit. Tidak ada lagi penerbangan langsung Jakarta – Frankfurt. Ketika pesawat sudah mengangkasa, baru kutahu apa sebabnya. Tidak banyak penumpang dari Jakarta menuju Frankfurt menggunakan Lufthansa. Hanya ada beberapa penumpang. Dalam pesawat yang bisa berkapasitas 400 – 500 orang itu, hanya mengangkut penumpang kurang dari 100 dari Jakarta menuju ke Bangkok.

Lengkap sudah keterpurukan Indonesia. Sejak krisis menghantam dan meluluhlantakkan perekonomian negeri ini, Indoensia seakan terjerembab ke dalam krisis yang tidak berkesudahan. Memang sejak SBY-JK naik ke panggung kekuasaan, berbagai indikator ekonomi makro menunjukkan perbaikan. Tetapi, seperti analisis ekonomi Faisal Basri, tanda-tanda positif itu lebih didorong oleh faktor eksternal ketimbang inisiatif perbaikan dari dalam.

***
Bumi terlihat hitam gelap. Jarum jam menunjukkan pukul 05.30 saat pesawat melayang di atas Kota Frankfurt am Main. Di horison semburat sinar merah telah datang menghantar matahari berjumpa dengan bumi di hari terang. Tetapi dari atas, tampak listrik masih menyala terang menerangi kota Frankfurt.

Di Frankfurt, aku transit berganti pesawat menuju Birmingham, Inggris. Di bandara itu aku mesti menunggu lama. Terlalu lama untuk secangkir capucino seharga 2,5 euro yang kubeli di sebuah kios kecil di sudut salah satu ruang tunggu. 4 Jam aku harus menunggu pesawat menuju Birmingham.

Bandara Frankfurt sangat besar. Lebih besar dari Schipol atau Heathrow yang pernah kusinggahi sebelumnya. Pesawat dari Jakarta merapat di terminal C dan aku harus berdesakan dengan ratusan penumpang menuju terminal A.

Fasilitas bandara sangat lengkap. Café dan toko memenuhi ruang tunggu bandara. Lebih pas disebut mall daripada airport. Meskipun beberapa informasi disampaikan dalam dua bahasa, Jerman dan Inggris, tetapi beberapa fasilitas seperti telpon umum hanya bertuliskan bahasa Jerman.

“Sialan”, umpatku. Aku mencoba telpon koin sekali lagi. Kali ini malah tersambung ke sebuah nomor telpon karena aku mendengar suara perempuan dalam bahasa Jerman. Padahal aku hanya ingin bicara kepada Dian di Jakarta, sekedar mengabarkan kalau suaminya tengah transit di salah satu bandara terbesar dan termodern di dunia. Aku juga gagal ketika hendak menelpon Agam, kawanku yang tengah menyelesaikan studi di Nottingham. Agam berencana menjemput aku di bandara Birmingham.

Kekesalanku semakin bertambah ketika HP-ku yang menggunakan kartu Mentari tidak bisa roaming internasional. Padahal sehari sebelum berangkat aku sudah setting aktivasi roaming internasional. Dua tahun lalu, saat aku berkunjung ke Belanda, HP-ku sukses mengenali operator di sana. Bahkan ketika berkunjung ke kota lain, di layar HP tertulis operator lain.

Apalagi HP yang kupakai mengalami kerusakan. Treo 270 milikku patah flipnya. Lengkap sudah kekesalanku. Ditambah dengan badan yang terasa lelah melewatkan 14 jam dalam perjalanan Jakarta – Bangkok – Frankfurt.

“Aha”, kulihat mesin internet koin. “Barangkali aku bisa kirim e-mail atau chatting menggunakan Yahoo Messenger. Siapa tahu Dian sedang online di kantornya”, pikirku. Ternyata setelah kubuka situs yahoo messenger tidak kudapai fasilitas chatting online. Softwarenya harus didownload ke komputer sementara operating system pada mesin internet itu pun aku tak tahu.

Tetapi untunglah. Selain memberikan fasilitas internet, mesin itu juga menyediakan fasilitas pengiriman SMS. Tidak gratis tentu saja. 30 cent euro adalah biaya yang harus aku bayar untuk mengirim satu SMS. Ditambah biaya browsing, aku telah menghabiskan 1,5 euro.

JAM telah kusesuaikan dengan waktu Inggris. 6 jam selisih waktu dengan Jakarta atau Waktu Indonesia Bagian Barat. Pesawat Lufthansa mendarat di Birmingham tepat jam 11.00. aku menunggu beberapa sampai bertemu Agam. Beberapa bulan menjadi mahasiswa, dia tampak langsing. Juga gerakannya gesit. Bahkan ketika kami berjalan, segera saja aku tertinggal dan terengah-engah.

Dari bandara kami menuju ke Birmingham City Center. Di situ sebuah pertokoan dengan desain bulat yang futuristik. Sementara di latar depan, sebuah gereja tua masih berdiri tegak. Sembari menunggu bis yang akan membawa kami ke Nottingham, kami makan dan minum kopi di pertokoan City Center. Kami minum Starbuck. “Di Inggris pemiliknya tentu bukan Sjamsul Nursalim”, kataku kepada Agam. Saya dan beberapa teman memang tidak akan minum di Starbucks di Jakarta karena jaringan warung kopi internasional, pemegang franchisenya di Indonesia bagian dari kelompok usaha Sjamsul Nursalim. Masih ingat BLBI? Sjamsul Nursalim adalah salah satu penunggak besar BLBI. Meskipun akhirnya dia mendapat SP3 dari Kejaksaan Agung, tetapi sampai sekarang dia masih melarikan diri ke luar negeri. Awalnya dengan alasan sakit, tetapi kemudian tidak jelas di mana dia berada sekarang.

Jam 16.00 kami berangkat menuju Nottingham dari Digbeth Coach Station. Menggunakan bis National Transport, perjalan menuju Nottingham hanya membutuhkan waktu 45 menit saja. Rencananya, aku menginap di flat Agam. Kebetulan Agam menyewa dua kamar, sehingga ada tempat untuk kawan yang menginap.

Sebelum menuju flat Agam, kami sempat minum teh panas di Ye Olde Trip to Jerusalem. Nama ini menggunakan ejaan Inggris lama, padanannya: The Old Trip to Jerusalem. Kabarnya, itu café tertua di daratan Inggris dibangun tahun 1189. Dulu menjadi persinggahan bagi para peziarah dan ksatria yang hendak menuju Jerusalem saat Perang Salib berkecamuk. Kafe itu menempel pada bukit cadas di belakangnya. Sesungguhnya, kafe itu menggunakan gua sebagai ruangan.

50 m dari kafe ada patung Robin Hood. Nottingham menjadi setting bagi kisah Robin Hood. Sherif Nottingham menjadi lawan Robin Hood. Di belakang patung ada beberapa relief yang menggambarkan kisah kepahlawanan Robin Hood. Di seberangnya, terdapat Lace Market. Dulu tempat itu adalah pasar bagi lace atau kain untuk korden. Barangkali pasar itu menjadi salah satu tempat kebanggaran penduduk kota Nottingham.

***
Pagi itu udara dingin menggigit. Aku dan Agam menuju ke Stasiun Nottingham. Kami menggunakan kereta menuju Kota Loughborouh. Loughborough adalah kota kecil di kawasan Midland. Berpenduduk 50 ribu orang saja dan sebagian besar adalah mahasiswa dan karyawan di Universitas Loughborough.

Kami menuju ke Water, Engineering and Development Centre (WEDC), sebuah pusat penelitian lintas disiplin yang berada di bawah fakultas teknik Universitas Loughborough. Kantornya sangat sederhana. Berbentuk kotak seperti peti kemas yang dijajar bersambung. Di situ, M. Sohail, pemimpin proyek penelitian mengundang ICW untuk terlibat dalam penelitian tentang infrastruktur.

Pertemuan berjalan seperti biasa. Siang, saat makan siang, datang seorang kawan dari Indonesia menemuiku dan Agam di WEDC. Dia tengah menyelesaikan disertasi di Loughborough University. Siang itu Sohail menghidangkan makan siang a la Eropa. Maksudku, kebiasaan orang Eropa makan siang disajikan dengan cepat, ringkas dan dikunyah sembari menyelesaikan pekerjaan. Kami makan sandwich. Roti lonjong, dibelah dua memanjang menjepit sayuran dan ikan atau daging. Ada dua jenis: tuna, daging dan mentega. Juga tersedia sate vegetarian. Seperti sate, dipotong kecil-kecil dan ditusuk dengan bambu, hanya bukan daging tetapi sayur-sayuran.

Sore aku dan Agam kembali ke Nottingham naik kereta. Jaraknya tidak terlalu jauh, Loughborough – Nottingham hanya memerlukan waktu 15 menit saja. Tiket kereta 5 pound untuk return ticket. Tidak terlalu mahal, tetapi dibandingkan dengan tiket di negara Eropa lain seperti Belanda dan Belgia, jelas lebih mahal untuk jarak yang ditempuh serta nilai pound yang lebih besar dari Euro. Inikah keberhasilan dari privatisasi? British Railways, jawatan kereta api Inggris diprivatisasi saat Margaret Thatcher berkuasa. Privatisasi perusahaan kereta api menjadi salah satu peristiwa penting pengurangan peran negara dalam pelayanan publik. Ya, pada masa Margaret Thatcher di UK dan Ronald Reagan di US, peran pemerintah secara sistematis dikurangi dan digantikan oleh sektor swasta. Asumsinya, karena kompetisi yang harus dihadapi oleh sektor swasta, pelayanan bisa lebih efisien, lebih baik dan bebas dari korupsi. Lalu di mana peran pemerintah? Dalam pelayanan publik, pemerintah diposisikan sebagai regulator saja dan ekonomi kemudian ditata menurut gagasan pemikiran yang kini populer disebut neo-liberal.

Di Nottingham, aku dan Agam berjalan kaki ke downtown. Sore itu, Agam mengajakku bergabung dengan kawan-kawannya, penggemar kuliner. Rupanya, bersama sejumlah mahasiswa Indonesia, Agam membentuk perkumpulan “pemburu” makanan enak. Mereka mencari dan mencoba restoran yang dikabarkan menyajikan makanan enak. Sore itu, mereka mencoba makanan Chinesee Food di Restoran Wagamama, di kawasan downtown Nottingham.

Rupanya mereka terinspirasi Komunitas Jalansutra. Bondan Winarno, salah seorang penulis terkemuka di Indonesia, menulis kolom Jalansutra yang berisi ulasan tentang makanan enak. Agam dan kawan-kawan telah membentuk Jalansutra Cabang Nottingham. Suatu kali, bila anda pergi ke Nottingham jangan lupa bertanya kepada mereka, terutama restoran enak dan harga terjangkau.

***
Hari masih pagi. Tia, istri Agam menghangatkan sayur udang dan nasi. Pagi itu aku mau London. Sewaktu ke Oxford tahun 2002 lalu aku sempat semalam di London. Tetapi sayang, aku dan alm. Irfan saat itu tidak sempat jalan-jalan di London.

Berbekal tiga potong roti tawar dan cracker, pagi itu aku pinjam sepeda Agam ke Broad Marsh Coach Station di Nottingham. Tiket kubeli melalui internet menggunakan kartu debit milik Agam. Sesudah mendapatkan otorisasi, tiket dapat dicetak ke printer dari situs perusahaan bis National Transport.

Pikiranku terbayang seandainya saja di Indonesia bisa seperti ini. Tentu pengalaman tidak menyenangkan yang membuatku kapok ke Pulogadung lai. Tahun 2001 lalu, aku mengantar ibu ke Pulogadung.

Hari sudah malam. Jam menunjukkan pukul 11 malam, tetapi Ibu ngotot untuk pulang ke Rembang, Jawa Tengah malam itu juga. Katanya, keesokan harinya dia harus menghadiri rapat di kantor. Akhirnya aku dan Dian mengalah dan mengantar ke Pulogadung. Ibu memilih bis eksekutif ke Surabaya dan kami pun pulang. Eh, ketika hendak mencari taksi seseorang mendatangi kami meminta tip. Katanya ongkos membantu kami mencari bis. Tentu kami pun menolak. Tetapi tetap saja dia ngotot.

Kami pun segera bergegas mencari taksi sambil berlari. Ketika kami berhasil masuk taksi, orang itu menggedor jendela, “Ini ada yang ketinggalan”. Ternyata dia menyodorkan buku agenda Dian yang ada di dalam tas dan kembali meminta uang. Rupanya, saat dia minta tips, tangannya sempat merogoh tas dan untunya yang terambil buku agenda. Dompet Dian masih tersimpan di bagian lain tas yang selalu dipegang erat. “Busyet, kapok aku ke Pulogadung malam hari,” umpatku dalam hati.

Situasinya memang tidak sederhana. Kalau perusahaan bis bisa menyediakan penjualan tiket on-line, yang beli tidak akan terlalu banyak. Maklum, akses internet di Indonesia tergolong rendah. Bahkan dibandingkan dengan negara sekawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya lebih baik dari Laos dan Kamboja atau Myanmar.

Pengguna internet di Indonesia, selain mahasiswa adalah masyarakat yang termasuk menengah ke atas. Mereka ini sebagian besar memiliki kendaraan pribadi. Jadi konsumen bis adalah mereka yang termasuk menengah ke bawah. Kalau mau bepergian mereka tidak terburu-buru, datang ke terminal membeli tiket dan menunggu bis. Bis terlambat sudah biasa.

Soal keterlambatan, ternyata juga kualami dalam perjalan ke London. Nottingham – London menggunakan bis hanya memerlukan waktu 3 jam. Tetapi ketika bis hendak berangkat, sopir sudah mengingatkan bahwa bis bisa terlambat sampai satu jam. “It’s depend on traffic”, katanya. Seperti kota besar lainnya, London juga menghadapi problem kemacetan. Saat mobil hendak memasuki kota London, jalanan menjadi sesak. Ribuan mobil dari segenap penjuru Inggris seakan hendak berebut memasuki kota. Tetapi untunglah, di London ada alternatif transportasi menghadapi kemacetan. Salah satunya London Underground atau kereta bawah tanah.

Di London, bis berhenti di Victoria Coach Station. Sekitar 100 m dari terminal bis juga terdapat terminal kereta bawah tanah dan kereta antar kota. Agaknya seluruh moda transportasi di London telah tertata rapi. Pada terminal tertentu, stasiun kereta bawah tanah “bertemu” dengan stasiun kereta antar kota dan terminal bis.

***
Perutku terasa lapar. Kaki juga sudah terasa lelah setelah mengunjungi Buckingham Palace dan menyusuri St. James Park ke Trafalgar Square. Buckingham adalah tempat kediaman resmi Ratu Inggris. Bila Ratu ada di istana, bendera UK akan dikerek naik. Beruntung siang itu aku sempat melihat barisan pasukan penjaga istana berbaris menuju markas mereka dengan diiringi drum band.

Sementara udara yang relatif hangat bagi ukuran orang Inggris, masih terasa dingin yang menyiksaku. Ditambah dengan perut keroncongan. Segera saja kubuka bekal dari Nottingham. Roti + cracker kulahap di Trafalgar Square, salah satu landmark Kota London. Meski kenyang, tetap saja aku kedinginan. Untung di sebelah Trafalgar Square ada museum, dan aku bisa duduk-duduk di dalam tanpa kedinginan.

Dari Trafalgar aku kembali menyusuri London. Kali ini aku menuju ke arah Big Ben. Jam besar yang terpasang pada salah satu menara di Gedung Parlemen Inggris. Di dekat Bigben terletak Katedral Westminster. Di gereja ini keluarga kerajaan menyelenggarakan berbagai acara keagamaan, seperti pembaptisan dan pernikahan.

Dari Big Ben aku mencoba naik Tube. Di London, kereta bawah tanah disebut tube, sementara bis disebut dengan Coach. Berbekal buku Lonely Planet milik Agam aku menuju ke London Tower. Bangunan ini dulu adalah salah satu benteng pertahanan di Kota London. London Tower berada di dekat jembatan Kota London atau London Bridge. Aku teringat salah satu lagu kegemaran anakku.

London Bridge is falling down, Falling down, falling down,
London Bridge is falling down, My fair Lady.

Build it up with wood and clay, Wood and clay, wood and clay,
Build it up with wood and clay, My fair Lady.

Wood and clay will wash away, Wash away, wash away,
Wood and clay will wash away, My fair Lady.
. . . . . . .

Lagu anak-anak itu bercerita tentang sejarah London Bridge. Awalnya jembatan London dibangun menggunakan kayu dan tanah liat. Tetapi beberapa kali mengalami kerusakan, bahkan hancur saat penyerbuan bangsa Viking ke Inggris tahun 1000. Lalu pada tahun 1176 Peter de Colechurch membangun jembatan London menggunakan batu dan tegak berdiri sampai sekarang setelah beberapa kali mengalami renovasi.

Sore hari aku kembali ke Victoria Coach Station. Tube penuh sesak karena orang pulang kantor. Aku kembali teringkat Jakarta dan KRL-nya. Tube sebetulnya juga sangat berjubel saat pagi dan sore. Tetapi karena semuanya teratur dan tepat jadwal, padatnya tube jauh lebih baik daripada terjebak macet di Kota London. Seandainya saja KRL dapat diatur. Penumpang yang masuk ke stasiun harus membeli karcis, pedagang asongan dibatasi keberadaannya. Bukan maksudku tidak punya perspektif kemiskinan. Tetapi banyaknya asongan, pengamen dan pengemis membuat KRL semakin sesak. Apalagi kabarnya roda kereta dorong penjual teh botol memberi kontribusi signifikan atas rusaknya lantai KRL. Yang diperlukan bukan mengusir, tetapi mengatur dan menempatkannya pada area yang sudah ditentukan sebelumnya. Soal pengamen misalnya. Saya paling senang berada di Stasiun Bogor karena di sana banyak kelompok pengamen yang kreatif. Tidak asal teriak, tetapi mereka membawa peralatan sederhana lengkap bak orkes.

Pada KRL, sekilas yang tampak adalah kekacauan, ketidakteraturan. Coba saja anda naik KRL tanpa bayar karcis. Langsung naik saja. Di peron tak akan ada pemeriksaan. Di dalam kereta, terutama saat penuh, hampir tidak mungkin kondektur memeriksa. Kalau kebetulan ada kondektur, langsung saja bayar di tempat. Atau kalau mau menghindar, bilang saja “abu”, alias abunemen atau pemegang karcis berlanggana. Jangan kuatir, kondektur tak akan meminta anda menunjukkan kartu abunemen anda.

Soal jadwal? Jangan tanya. Mengatur penumpang saja tidak bisa apalagi mau mengatur jadwal kereta yang lebih kompleks persoalannya. Kecuali di stasiun keberangkatan, hampir bisa dipastikan kereta selalu datang terlambat. Bahkan berkali-kali KRL tabrakan. Anehnya, tak ada Direktur atau pejabat di Departemen Perhubungan yang mengundurkan diri.

***
Salah satu kemewahan bagi mahasiswa yang kuliah di luar negeri adalah akses ke jurnal elektronik. Jumat aku ke perpustakaan Nottingham University. Menggunakan password Agam aku masuk ke situs perpustakaan digital dan mengunduh puluhan paper. Lebih dari lima jam aku duduk di perpustakaan. Barangkali ini oleh-oleh paling berharga dari Inggris karena tak hanya buatku, paper tentang berbagai topik itu bisa dibaca dan dimanfaatkan oleh teman-teman lain.

Tetapi aku tidak kuat berlama-lama. Karena hari itu aku lupa pakai kaos dalam. Hanya baju + jaket, dan itu tak cukup tebal untuk menahan dingin. Alhasil, kembali alergiku kumat. Yah, alergi dingin. Kalau kedinginan aku terus-menerus bersin, bahkan bisa seharian tidak berhenti.

Sembari menyeka hidung dan menahan bersin, Agam dan Tia mengajakku ke Wollaton Hall. Gedung tua yang selesai dibangun tahun 1588 kini dikelola oleh Pemerintah Kota Nottingham dan menjadi museum alam. Di dalam terdapat berbagai jenis binatang yang telah diawetkan. Wollaton Hall dikelilingi oleh lapangan dan taman yang luas. Tampak beberapa pengunjung membawa anak dan anjing untuk berjalan-jalan di taman itu.

Dari Wollaton Agam mengajakku makan masakan khas Inggris: Fish and Chip’s. Bahasa Indonesianya: ikan goreng + kentang goreng. Rupanya ini makanan tradisional Inggris, ikan digoreng tepung. Tetapi seperti masakan Eropa tanpa bumbu rempah-rempah dan garam. Orang Inggris makan fish & chips dengan saus tabasco serta garam yang ditaburkan di atasnya. Kami menikmati fish & chip di kafe Moulin Rouge, dekat Broad Marsh. Untuk minumnya aku mencoba teh Inggris, ternyata teh dan susu, alias susu teh agar lebih dekat dengan susu kopi yang populer di Indonesia.




Posted at 11:28 am by danangwd
Comment (1)  

Wednesday, September 07, 2005
Timtas Tipikor

Timtas Tipikor: Jalan Pintas Memberantas Korupsi

Dibandingkan pemerintahan sebelumnya, harus diakui Presiden SBY
membawa perubahan. Terutama dalam hal pemberantasan korupsi yang
menjadi prioritas utamanya. Tak cukup mengandalkan KPK yang hanya
memiliki sumber daya terbatas, Kejaksaan dan Kepolisian, Presiden
membentuk Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas
Tipikor).

Timtas Tipikor yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 11 tahun 2005
beranggotakan 48 orang dari Kejaksaan, Kepolisian dan Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dengan adanya unsur Kepolisian dan
auditor dari BPKP, Timtas Tipikor yang dipimpin oleh Jaksa Agung Muda
Pidana Khusus (Jampidsus) Hendarman Supanji, praktis memiliki
kelengkapan yang memadi untuk memberantas korupsi.

Tetapi mengapa Presiden perlu membentuk Timtas Tipikor? Bukankah sudah
ada KPK, Kepolisian, Kejaksaan dan Tim Pemburu Koruptor yang dipimpin
oleh Wakil Jaksa Agung Basrief Arief? Ada dua alasan yang bisa
dikemukakan di balik pembentukan tim ini. Pertama, pembentukan Timtas
merupakan pemenuhan janji Presiden saat kampanye lalu untuk memimpin
sendiri upaya pemberantasan korupsi. Timtas Tipikor berada di bawah
dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden. Selain itu, setiap tiga
bulan Ketua Timtas Tipikor harus memberikan laporan perkembangan
kerjanya kepada Presiden.

Timtas Tipikor juga mendapat mandat dari Presiden untuk menyelesaikan
19 kasus korupsi. Beberapa diantaranya termasuk "big fish" atau kasus
korupsi besar yang melibatkan sejumlah elit politik. Bahkan elit di
lingkar inti pemerintahan SBY sendiri. Mulai dari dugaan korupsi di
sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga pengelolaan dana haji.

Kedua, pembentukan Timtas Tipikor juga bisa dibaca sebagai
ketidakpercayaan Presiden terhadap kinerja Kapolri dan Jaksa Agung.
Praktis tidak ada kemajuan yang signifikan dari Kejaksaan Agung dalam
pemberantasan korupsi. Yang bisa dicatat sebagai prestasi barangkali
hanya banyaknya perkara dugaan korupsi di daerah yang diusut oleh
Kejaksaan. Tetapi, selain banyak kasus yang macet atau akhirnya bebas,
kasus korupsi dalam otonomi daerah bukanlah "big fish". Demikian juga
halnya dengan Kepolisian. Bahkan lebih buruk dibandingkan dengan
Kejaksaan, praktis tidak ada prestasi yang dapat dicatat dari polisi
dalam pemberantasan korupsi.

Terbukti kemudian, setelah Timtas Tipikor terbentuk, ada perubahan
kinerja yang cukup signifikan. Sejumlah tersangka kasus korupsi
langsung ditahan, diantaranya adalah jajaran direksi bank dan mantan
Menteri Agama. Selain itu, dengan sumber daya yang sebetulnya juga
relatif terbatas, Timtas Tipikor ternyata mampu melakukan penyidikan
secara serempak dalam sejumlah kasus dugaan korupsi.

Faktor penghambat
Meskipun mampu membawa perubahan, keberhasilan Timtas Tipikor masih
harus ditunggu. Terutama karena ada banyak faktor yang dapat
menghambat keberhasilannya. Pertama, adalah independensi Timtas
Tipikor terhadap intervensi politis dan konflik kepentingan di
kalangan eksekutif.

Korupsi pada dasarnya adalah penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan
pribadi dan merugikan keuangan negara. Karena itu, yang menjadi pelaku
korupsi adalah pemegang kekuasaan dan secara politis memiliki dukungan
yang besar pula. Oleh sebab itu, Timtas Tipikor yang sejak awal
dibentuk oleh Presiden untuk menyelesaikan sejumlah kasus korupsi
besar, akan berhadapan dengan koruptor beserta pendukungnya.

Walaupun secara terbuka saat dilantik sebagai Ketua Timtas Tipikor,
Hendarman Supanji mengatakan bahwa Presiden mendukung sepenuhnya
penyelidikan dan penyidikan korupsi, independensi dan keberanian
Timtas Tipikor masih harus ditunggu. Apalagi dalam dua kasus dugaan
korupsi besar, yaitu Bank Mandiri dan PLN, menyeret sejumlah tersangka
yang memiliki keterkaitan dengan pejabat tinggi. Konflik kepentingan
di pucuk pimpinan eksekutif bisa menghentikan kasus korupsi yang
ditangani oleh Timtas Tipikor.

Kedua, Timtas Tipikor juga terhambat oleh rendahnya kinerja penyidik.
Beberapa kali Hendarman Supanji harus mengganti anggota tim penyidik
karena kinerjanya jauh dari harapan. Faktor penghambat ini
sesungguhnya berakar pada persoalan internal di Kejaksaan dan juga
Kepolisian. Penyidik yang dipimpin oleh Hendarman Supanji pada
dasarnya adalah orang-orang yang sama yang turut bertanggungjawab atas
kegagalan penegakan hukum dalam kasus korupsi. Dengan orang-orang
lama, Timtas Tipikor dituntut untuk menyelesaikan sejumlah perkara
korupsi besar yang sangat rumit dan kompleks.

Ketiga, korupsi di peradilan atau mafia peradilan juga bisa
menghambat keberhasilan Timtas Tipikor. Seperti terjadi dalam kasus
Abdullah Puteh yang ditangani oleh KPK, terdakwa yang divonis
bersalah pada pengadilan tingkat pertama justru bisa bebas dengan
alasan sakit. Belakangan KPK berhasi menangkap basah upaya penyuapan
yang dilakukan oleh salah seorang pengacara Abdullah Puteh.

Situasi serupa akan dihadapi oleh Timtas Tipikor kelak. Pengadilan
yang korup dan hakim yang menjadi pelaku dalam mafia peradilan akan
mengadili perkara yang disidik oleh Timtas Tipikor. Karena itulah,
masih terlalu dini untuk menilai Timtas Tipikor telah berhasil. Justru
kritik dan pengawasan harus terus-menerus diberikan kepada Timtas agar
mampu menjebloskan koruptor ke penjara. Apalagi menghadapi konflik
kepentingan di pucuk tertinggi eksekutif, tanpa kritis keras dari
publik akan membuat Timtas akan menyerah terhadap segala bentuk
intervensi politis.

Jalan Pintas Pemberantasan Korupsi
Sesungguhnya, pembentukan Timtas Tipikor merupakan short cut atau
jalan pintas untuk memberantas korupsi. Persoalannya, Kejaksaan Agung
yang sesungguhnya merupakan institusi resmi dalam pemberantasan
korupsi belum berubah banyak sehingga harus dibuat jalan pintas.

Tetapi jalan pintas melalui Timtas Tipikor merupakan jalan pintas
kedua setelah pembentukan KPK. KPK dan pengadilan khusus anti-korupsi
dibentuk karena lunturnya kepercayaan terhadap institusi peradilan
konvensional.

Memang dalam pemberantasan korupsi diperlukan terobosan-terobosan
inovatif dalam penegakan hukum. Istilahnya, untuk menangkap tikus
tidak menjadi masalah apakah menggunakan kucing hitam atau kucing
belang. Yang penting si tikus harus berhasil ditangkap.
Dipergunakannya jalan pintas tidak bukan persoalan bila mampu
menyelesaikan masalah.

Namun demikian, selain menggunakan jalan pintas, "jalan utama" toh
harus diperbaiki. Artinya, pada saat yang bersamaan, selain membentuk
Timtas Tipikor, Kejaksaan Agung dan Kepolisian harus dibenahi. Apalagi
baik Timtas Tipikor maupun KPK memiliki keterbatasan sumber daya.
Justru agar upaya pemberantasan korupsi dapat dijaga keberlanjutannya,
Kejaksaan, Kepolisian dan juga pengadilan harus direformasi dan
dibersihkan dari mafia peradilan.

Pada saat yang sama, reformasi juga harus dilakukan untuk efektivitas
koordinasi antar berbagai lembaga pengawasan. Bukankah masuknya
auditor BPKP ke dalam Timtas Tipikor merupakan jawaban terhadap
buruknya koordinasi antara penegak hukum dengan BPKP dan BPK? Tanpa
reformasi yang sungguh-sungguh, selamanya penegakan hukum akan
terjebak ke dalam jalan pintas tak berujung.

Posted at 01:14 pm by danangwd
Make a comment  

Previous Page Next Page