<< March 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

aku lagi coba bikin blog nih. tapi agak sulit, butuh waktu cukup banyak untuk bisa mendesain dengan bagus

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, March 19, 2005
Perjalanan ke Lewoleba

Tak Ada Berkah di Nusa Indah

 

Bulan mengintip malu di balik awan. Terang bulan membuat gunung Ile Boleng di Pulau Adonara terlihat kokoh.

 “Awas sampan,” teriak Sonny, pemilik kapal.

 “Belok kiri, kiri lagi ….nah lurus terus, ” kata Jeffry yang memegang senter di depan kapal.

 “Ada pukat di depan, hati-hati. Belok kanan. Kanan terusss”

Bulan hilang tertutup awan. Malam pun semakin gelap. Kapal speed boat yang kami tumpangi  semakin hati-hati. Jalur antara Larantuka – Lewoleba, Lembata di malam hari penuh dengan sampan nelayan dan kapal pukat.  Kapal pun harus berjalan zig zag menghindari pukat. Kami berangkat jam 7 malam dari Larantuka. Jika saja kami berangkat lebih sore,  pukat belum digelar oleh nelayan.

Pukat adalah jaring penangkap ikan besar. Jaring itu membentang puluhan meter. Jika menabrak jaring pukat, ikan tidak akan bisa melepaskan diri.  Pukat yang  dipergunakan nelayan mengandalkan arus laut. Pukat menunggu ikan yang terbawa arus.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu hanya 2 jam,  kami tempuh lebih lama. Salah satu baling-baling speed boat tersangkut pukat. Kapal pun harus berjalan pelan menggunakan satu mesin.  Lalu kapal bersandar di pelabuhan Lamahala. Pelabuhan kecil di dekat Adonara, kota kecamatan di Kabupaten Flores Timur. Sonny turun, mengambil parang dan membersihkan jaring pada baling-baling.  Speed boat kembali melaju dengan cepat.

Jarum jam menunjukkan hampir pukul 10 ketika kelip merah menara lampu Telkomsel terlihat. Di Lembata hanya ada satu menara Telkomsel.

“Lihat itu lampu merah di kejauhan. Itu Lembata, sebentar lagi kita sampai,” kata Willem yang menjemput kami di Larantuka. Willem adalah ketua Forum Pemuda Lembata (Fordata), sebuah organisasi kepemudaan di Kabupaten Lembata. Willem pernah tinggal 12 tahun di Jakarta. Terakhir dia bekerja di  Astra. Tetapi ketika krisis ekonomi  datang menerpa Indonesia, Willem harus pulang,  Perusahaan tempat Willem harus di-restrukturisasi dan Willem diberhentikan.

Malam sudah larut ketika kapal mendekati pelabuhan Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Pelabuhan gelap gulita.

“Ada ojek kah?,” Willem berteriak keras.

“Ada,” sahut suara di  balik kegelapan malam.

Seharusnya penjemput sudah menunggu di pelabuhan. Tetapi tidak ada teriakan dan panggilan kepada kami. Yang terdengar hanya sahutan dari ojek. Itu pun hanya satu  padahal kami bertiga yang memerlukan kendaraan.

“Seharusnya teman-teman ada di sana menjemput kita”.

Karena tidak ada suara teman mereka di pelabuhan, Willem memutuskan untuk terus ke kampung nelayan. Kapal pun bersandar di pantai, dekat rumah Sonny, pemilik kapal. Jarum jam menunjukkan 23.00 malam.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat di  bandar udara Wai Oti Maumere. Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Terletak di tengah Pulau Flores, Maumere menjadi pintu masuk utama ke kota-kota di Pulau Flores. Ende, Manggarai, Larantuka,  adalah kota-kota utama di Pulau Flores. Flores termasuk wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur. Ibu Kota Propinsi adalah Kota Kupang yang berada di Pulau Timor.

Saya diundang teman-teman PBHI NTT.  Mereka menyelenggarakan Seminar Anti Korupsi, di Lewoleba, Lembata. Topiknya, “Korupsi dan Implikasinya terhadap Pembangunan”.  NTT termasuk salah satu propinsi miskin di Indonesia. Bahkan berdasarkan survey Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) yang dilakukan oleh UNDP tahun 2004, NTT peringkat ketiga dari bawah. Indeks NTT hanya lebih tinggi dari NTB dan Papua.

Di daerah miskin itu, korupsi banyak dilakukan. Baru-baru ini, PBHI NTT  membongkar korupsi  di Kabupaten Lembata. Kabupaten  yang baru dibentuk tahun 1999 ternyata tidak mau kalah dalam soal korupsi dengan kabupaten lain.  Salah satu yang dibongkar adalah dugaan penyelewengan dana Pemda dalam pengangkutan Butas.

Butas adalah singkatan dari Buton Aspal. Pemerintah pusat menghibahkan 10.000 ton aspal dari Buton kepada Pemda Lembata. Tetapi biaya pengangkutan harus ditanggung oleh Pemda Lembata.

Pemda Lembata lalu menunjuk PT Dian Sarana Teknik untuk mengangkut  Butas. Total biaya yang disediankan mencapai Rp 1,6 miliar. Tetapi  keputusan ini mengundang kecurigaan. Pertama karena perusahaan pengangkut tidak dipilih menggunakan tender. Seharusnya, setiap pengadaan barang dan jasa pemerintah di atas Rp. 50 juta harus menggunakan tender.

Kedua, anggaran yang dialokasikan ternyata tidak mencukupi. PT DST menaikkan harga angkut. Dengan dana Rp. 1,6 miliar, PT DST hanya mengangkut 4500 ton butas. Lalu bagaimana dengan sisanya? Pemda Lembata kembali merogoh kocek lebih dalam. PBHI Wilayah NTT memperkirakan, negara dirugikan Rp. 2,975 miliar.

Selain kasus Butas, PBHI tengah mengumpulkan informasi tentang praktek korupsi lain di Lembata.  Diduga terjadi mark up dalam pembelian alat berat yang mencapai Rp. 2,7 miliar. Mark up pembelian Kapal Torani II sebesar Rp. 500 juta. Kasus Dispendagate Rp. 715 juta dan berbagai kasus yang lain. “Kami masih mengumpulkan seluruh informasi itu. Kalau lengkap kita akan desak aparat untuk memeriksa Bupati,” kata Ahmad.

Diskusi berlangsung cukup panas. Beberapa peserta melontarkan kritik pedas terhadap kinerja Jaksa dan Polisi.  Kedua lembaga penegak hukum dianggap tidak mampu menangani kasus korupsi. Tetapi sayang, institusi Kejaksaan tidak mengirimkan wakil. Padahal yang diundang adalah Ketua Kejaksaan Tinggi NTT. 

Polisi hadir. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal  mewakili Kapolda NTT. Namun seperti biasanya, persoalan normatif yang dimunculkan oleh polisi. Agaknya semua kata yang akan diucapkan oleh Kasatreskrim telah diatur sebelumnya. Kata per kata. Mungkin yang bersangkutan tidak memiliki wewenang untuk mengatakan di luar dari pada itu.

Dari peserta juga muncul pertanyaan yang sinis, termasuk kepada ICW. “ICW harus menindaklanjuti laporan kami. Jangan dari Jakarta tipu-tipu kami di sini,” kata Lukas. Saya mengerti dan memahami lontaran itu. Kata-kata  itu merupakan refleksi dari kekecewaan mereka selama ini. Rendahnya kemampuan jaksa dan polisi untuk mengungkap kasus korupsi menjadikan sejumlah orang skeptis.

“Kejaksaan Tinggi hanya datang 1,5 jam ke Lewoleba. Setelah itu mereka menyatakan tidak ada korupsi,” kata Ahmad Bumi. “Lebih lucu lagi ketika Jaksa mengatakan 5500 ton butas telah tertiup angin, sedangkan yang 4500 ton telah terseret banjir,” lanjutnya.

Saya sendiri juga heran. Terutama ketika melihat kedua tumpukan butas itu. Pasir aspal itu masih cukup banyak. Bahkan baru terpakai 500 ton sehingga seharusnya masih tersisa 9500 ton. “Untuk mengetahui berapa ton butas ini, bisa menggunakan theodolit. Tetapi jaksa tidak melakukannya. Dari informasi volumen Butas, Jaksa seharusnya bisa mengembangkan kasus ini,” kata Ahmad.

Juga tumpukan yang dikatakan telah tersapu banjir. Aneh, karena di sekitar tumpukan butas hanya perumahan penduduk. Tidak ada satu sungai pun  mengalir.

Melihat fakta-fakta di atas, saya menjadi maklum mengapa  masyarakat kecewa terhadap polisi dan jaksa. Di tingkat nasional, Kejaksaan Agung gagal menyelesaikan kasus-kasus korupsi besar.  Sebagian besar tersangka dalam kasus BLBI yang menjadi penyebab krisis ekonomi, masih belum tuntas pemeriksaannya. Bahkan beberapa diantaranya mendapat SP3 alias dihentikan kasusnya.

Situasi di Jakarta juga terjadi di tingkat lokal. Masyarakat di Lembata turut menjadi saksi peristiwa di Larantuka. Tahun 2003, Pengadilan dan Kejaksaan Negeri Larantuka dibakar massa. Gara-gara pengadilan memvonis bersalah Rm. Frans Amanue, Pr  dalam kasus pencemaran nama baik.

Rm Frans mengkritik berbagai korupsi yang terjadi di Flores Timur. Alih-alih mengusut kasus korupsi, justru Kejaksaan dengan cepat menindaklanjuti laporan Bupati Flores Timur. Bupati melaporkan pencemaran nama baik dirinya oleh Rm. Frans Amanue. Akhirnya Rm Frans divonis penjara 6 bulan, dan percobaan 1 tahun. Setelah vonis diketuk, massa marah. Gedung pengadilan dibakar. Massa bergerak menuju Kantor Kejaksaan Negeri. Kantor Kejaksaan dibakar. Hakim dan Jaksa terpaksa mengungsi ke Kupang.


Sinar matahari pagi hangat menyentuh kulit. Kabut masih enggan beringsut.  Datangnya mentari belum mampu mengusir kabut yang menutupi Ile Ape.

Pagi itu, saya mulai perjalanan pulang ke Jakarta. Di pelabuhan Lewoleba, saya berangkat bersama beberapa kawan dari Larantuka dan Maumere. Ahmad dan beberapa aktivis PBHI turut melepas kepergian kami di pelabuhan itu.

Ahmad Bumi, pemuda kelahiran Lewoleba, adalah tokoh pemuda di Lembata. Ahmad berhasil masuk menjadi anggota DPRD Lembata dan menjabat Ketua Komisi A.  Ahmad juga akvitis. Dia menjadi anggota PBHI sejak menyelesaikan studi di Universitas ’45 Makassar.  Kini setelah pulang kampung, Ahmad membentuk PBHI NTT. Ahmad juga tengah melakukan konsolidasi  jaringan aktivis di seluruh pulau Flores. Di Lembata Ahmad berhasil mengajak pulang beberapa pemuda yang telah meraih sarjana hukum untuk pulang. Di Lembata Ahmad membentuk PBHI dan terlibat aktif untuk mengkritisi setiap kebijakan Pemda.

Perjalanan menuju Larantuka  memakan waktu 4 jam menggunakan kapal. Dari Larantuka ke Maumere ganti dengan perjalanan darat menggunakan mobil Isuzu Panther. Sampai Maumere kembali memerlukan waktu 4 jam dengan jalan berkelok-kelok, melewati sela-sela gunung.

Gunung berapi banyak terdapat di Pulau Flores.  Kota Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur bahkan terletak di kaki gunung Mandiri. Pemukiman  penduduk berbaris di tepi pantai dan persis di kaki Ile Mandiri. 

Perjalanan ke Maumere  juga melewati kaki Ile Lewotobi. Gunung dengan dua puncak itu terus mengepulkan asap belerang. Puncak gunung itu terlihat gersang. Tidak ada tampak satu pohon pun. Hamparan batu abu-abu mewarnai  kepundan Gunung Lewotobi.

Banyaknya gunung berapi menjadikan Flores sangat subur. Berbagai tanaman bisa tumbuh. Suburnya tanah menjadi sandaran hidup penduduk di  Flores. Berbagai hasil bumi, seperti kopra, kopi dan kakao dijual ke luar pulau. Terutama ke Surabaya. Kapal datang dari Surabaya membawa barang dan peralatan yang dibutuhkan penduduk Flores. Pulangnya ke Surabaya, kapal akan membawa hasil bumi dari Flores.

Saat ini, tanaman vanili menjadi pilihan utama  banyak petani. Terutama karena harganya yang sangat mahal. Juga produksi ikan, terutama Cakalang dan Tuna. Ikan ini dijual nelayan ke kapal-kapal asing.

Tetapi sayang. Indahnya alam dan suburnya tanah belum memberi berkah kepada penduduk. Banyak penduduk yang justru memilih menjadi TKI di luar negeri.  Korupsi agaknya menjadi sebab utama. Karena korupsi, sumber daya justru diambil  oleh elit politik setempat. Korupsi membuat rakyat hanya mendapat sisa. Karenanya, menjadi TKI adalah jalan keluar, walaupun semua orang di Flores juga tahu, besar resikonya menjadi TKI di luar negeri.







Posted at 03:00 pm by danangwd

John de España
June 30, 2009   05:00 PM PDT
 
Thanks Mr. Danang. I am happy, Jakarta´s people ready to visit our "kampoeng". We are poor, even, the poorest in Indonesia. But the corupction is the mayor problem over there. Hope they and the indonesian can be changed or we may change their sinful attitude towards the beloved country and the poor people.
viktor making
May 16, 2009   11:21 PM PDT
 
ya,,,,ngga di kota ngga di desa same aje korupsinye.....walaupun saya juga adalah putra asli Ile Ape...sama dengan si koruptor itu.....tapi saya lebih suka kalau ande dulu itu di hukum.....kata orang kampung"seperti rusa masuk kampung" tu ka...lihat doi mata maloi.....usut sampe tuntas.....kasi penjara tu ande dulu...malu2in orang ile ape saja.....AMIN
Krisna
April 27, 2009   06:32 AM PDT
 
senang sekali mwnemukan tulisan ini, kakak saya menikah dg org flores kelahiran Mingar Lembata, mereka tinggal di Kupang saya dan suami yg tinggal di eropa ingin sekali melihat Lembata ( Mingar ) mungkin th 2011 kami kesana mesti persiapan matang, kalau dr Suarabaya ke Larantuka bisa ya naik pesawat ?
Jeremias
February 26, 2009   01:38 PM PST
 
Thanks banyak ya, sudah membantu memperkenalkan Lembata (Kabupatenku) di dunia maya. Semoga Lembata semakin maju dan berkembang.
Name
February 3, 2009   10:18 AM PST
 
HAI,,,AKU KALSUM INGIN BERTEMAN MA KALIAN,,,BOLEHKAN..??
Name urbanus
March 26, 2007   04:04 PM PDT
 
trimakasih bung danang atas partisipasi dalam memajukan lembata. buat teman - teman yang terpanggil untuk membangun lembata segeralah ambil tindakan nyata melalui berbagai potensi anda
yanno atawollo
June 16, 2006   08:50 AM PDT
 
terima kasih atas perhatiannya,saya sebagai pribadi juga merasa prihatin dengan apa yang terjadi di lembata sebagai kabupaten yang baru,semoga kita semua, terutama rakyat lembata dapat mengatasi segala penyelewengan yang terjadi di lembata
Benny Langoday
March 29, 2006   04:53 PM PST
 
Bung Dadang,
Ma kasih atas perhatianmu atas tanah kelahiranku. Tapi aksi yang kita butuh untuk mengulingkan koruptor. Saya mau malu kalau kabupaten baru penuh dengan korupsi. Kapan lembataku bisa membangun. Pembukaan jalan baru kalau tidak disertai dengan pengaspalan percuma. Mari kita kembalikan uang yang bukan milik kita. Biarkan rakyat lembata menikmati hasil pembangunan, jangan manipulasi mereka. Adakan banyak proyek agar orang lembata jangan terus ke Malaysia tapi bisa membangun daerahnya sendiri.

Aku Benny Langoday
Tinggal di Bali.
Ferdinand Lamak
February 11, 2006   04:05 PM PST
 
Bung Danang, saya salut, Anda mau datang jauh2 dari Jakarta untuk menyadarkan orang Lembata khususnya, dan Flores-NTT umumnya, tentang perlunya bersama-sama melawan segala bentuk penyelewengan.
Kapan-kapan kita ngobrollah......

ferdi-smart fm
Felix Weka
January 3, 2006   10:37 AM PST
 
Terima kasih atas perhatian terhadap siatuasi di Kabupaten Baru dengan adanya korupsi dan manipulasi yang menghambat pembangunnan di Lembata
Felix
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry